Arca yang diidentifikasi sebagai Arca Ratu Suhita merupakan artefak berbahan batu andesit berwarna abu-abu kecokelatan dengan kondisi pelestarian yang relatif baik, meskipun pada beberapa bagian permukaan telah mengalami pelapukan akibat faktor lingkungan dan usia. Permukaan batu memperlihatkan tekstur yang mulai kasar dengan abrasi ringan hingga sedang, terutama pada bagian wajah, perhiasan, serta lipatan busana. Meskipun demikian, sebagian besar unsur ikonografi masih dapat diamati dengan jelas sehingga memungkinkan dilakukan analisis terhadap bentuk, atribut, dan gaya seni pahatnya.
Secara morfologis, arca menggambarkan sosok perempuan yang berdiri tegak dalam posisi sthanaka, yaitu sikap berdiri lurus dengan kedua kaki menopang tubuh secara seimbang di atas lapik. Postur tubuh dipahat secara proporsional dengan kesan ramping dan anggun, yang merupakan karakteristik seni pahat Jawa Timur pada masa akhir Majapahit. Wajah berbentuk oval dengan mata setengah terpejam, hidung mancung, bibir tipis membentuk senyum samar, serta dagu yang halus memperlihatkan ekspresi tenang dan penuh kewibawaan. Ekspresi tersebut merupakan ciri khas arca perwujudan yang menampilkan sosok penguasa sebagai pribadi yang telah mencapai kesempurnaan spiritual.
Bagian kepala dihiasi kirita-makuta atau mahkota tinggi yang dipahat dengan berbagai ornamen dekoratif. Pada sisi telinga tampak anting berukuran besar yang menjuntai hingga bahu, sedangkan leher dihiasi kalung berlapis yang mempertegas status tokoh sebagai anggota keluarga kerajaan. Kedua lengan dilengkapi kelat bahu dan gelang tangan, sementara bagian pinggang dihiasi ikat pinggang berornamen dengan untaian kain yang menjuntai hingga paha. Busana berupa kain panjang menutupi tubuh bagian bawah hingga mata kaki dengan lipatan-lipatan yang dipahat secara dekoratif. Keseluruhan atribut tersebut menunjukkan kemampuan pemahat dalam menghasilkan detail ornamen yang halus sekaligus mencerminkan perkembangan seni pahat Majapahit yang menonjolkan aspek dekoratif.
Posisi tangan menjadi salah satu unsur penting dalam analisis ikonografi arca ini. Tangan kanan berada di depan dada, sedangkan tangan kiri menjulur ke bawah di samping tubuh. Berdasarkan kondisi fisiknya, terdapat kemungkinan bahwa kedua tangan pada awalnya memegang atribut tertentu yang kini telah hilang akibat kerusakan atau pelapukan. Dalam tradisi seni arca Jawa Kuno, atribut seperti bunga teratai, tangkai bunga, atau benda simbolik lainnya sering kali dibuat terpisah atau memiliki bagian yang lebih mudah patah, sehingga banyak arca yang ditemukan tanpa atribut aslinya. Oleh karena itu, identifikasi tokoh tidak hanya bergantung pada posisi tangan, tetapi juga mempertimbangkan bentuk mahkota, busana, gaya pahatan, serta konteks arkeologis.
Dari aspek teknik pengerjaan, arca menunjukkan kualitas pahatan yang tinggi. Permukaan batu dihaluskan setelah proses pemahatan utama sehingga menghasilkan bentuk anatomi yang proporsional dan detail ornamen yang simetris. Teknik pemahatan memperlihatkan penguasaan yang baik terhadap media batu andesit, terutama pada bagian perhiasan, lipatan kain, serta ukiran mahkota yang dibuat dengan tingkat ketelitian tinggi. Walaupun beberapa detail telah mengalami keausan, karakter utama arca masih dapat dikenali dengan jelas dan menunjukkan ciri khas seni pahat Jawa Timur pada abad ke-15 Masehi. Berdasarkan karakter ikonografi dan gaya seni, arca ini diidentifikasi sebagai Arca Ratu Suhita, yaitu arca perwujudan penguasa perempuan Kerajaan Majapahit yang memerintah sekitar tahun 1429–1447 Masehi. Dalam tradisi Hindu-Buddha Jawa Kuno, raja atau ratu yang telah wafat sering diwujudkan dalam bentuk arca deifikasi sebagai simbol penyatuan penguasa dengan dewa atau bodhisattwa tertentu. Oleh sebab itu, arca ini tidak dimaksudkan sebagai potret realistis Ratu Suhita, melainkan sebagai representasi simbolik yang mencerminkan legitimasi kekuasaan, kesucian, serta kedudukan spiritual seorang penguasa. Dari segi kronologi, penggunaan batu andesit, teknik pahatan, bentuk mahkota, serta karakter busana menunjukkan kesesuaian dengan tradisi seni pahat Majapahit akhir pada abad ke-15 Masehi. Arca ini memiliki nilai penting sebagai bukti material mengenai perkembangan seni arca, konsep deifikasi penguasa, serta hubungan erat antara kekuasaan politik dan kepercayaan Hindu-Buddha pada masa akhir Kerajaan Majapahit.

